3 Pelajaran Penting dibalik Musibah Gempa

3 pelajaran gempa

Ketika terjadi bencana alam seperti gempa bumi, masyarakat kita pasti berdiskusi apakah gempa itu merupakan azab dari Allah atau ujian? daripada memikirkan apakah gempa itu siksaan atau ujian, kita banyak menemukan hikmah dan pesan bijak di balik gempa.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang gempa bumi adalah Al Araf ayat 155. Ayat tersebut menceritakan bagaimana gempa bumi melanda Nabi Musa dan para pengikutnya. Allah SWT berfirman:

وَاخْتَارَ مُوْسٰى قَوْمَهٗ سَبْعِيْنَ رَجُلًا لِّمِيْقَاتِنَا ۚفَلَمَّآ اَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ اَهْلَكْتَهُمْ مِّنْ قَبْلُ وَاِيَّايَۗ اَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاۤءُ مِنَّاۚ اِنْ هِيَ اِلَّا فِتْنَتُكَۗ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاۤءُ وَتَهْدِيْ مَنْ تَشَاۤءُۗ اَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْغٰفِرِيْنَ

“Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka ditimpa gempa bumi, Musa berkata, “Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? (Gempa bumi) itu hanyalah cobaan dari-Mu. Engkau menyesatkan siapa yang Engkau kehendaki dengan cobaan itu dan Engkau memberi petunjuk siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Pelindung kami. Maka, ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah sebaik-baik pemberi ampun.” (QS Al Araf ayat 155).

Muhammad Rashid Ridla, murid tokoh pembaharu Islam Mesir Muhammad Abduh, mengartikan ayat di atas sebagai ujian terhadap kata “fitnah”. Rashid Ridla bahkan menjelaskan asal kata fitnah.

Menurutnya fitnah adalah proses penyucian, penyucian jiwa Seperti ungkapan bahasa arab untuk proses pemurnian logam mulia, orang arab menyatakan dinar ini sebagai maftun (dinar yang dimurnikan).

Meskipun selama proses pemurnian logam mulia dibakar dengan api yang sangat panas. Dengan demikian, gempa bumi yang dialami orang beriman merupakan upaya Allah SWT dan kasih sayang-Nya untuk “mensucikan” dan “mensucikan” noda-noda tak kasat mata yang mengotori jiwa agar manusia menjadi pribadi yang lebih baik. Meski prosesnya membutuhkan banyak rasa sakit. (Muhammad Rasyid Ridla, Tafsir al-Manar, Juz 9 hlm. 189-190)

Bencana seperti gempa bumi tidak dimaksudkan hanya untuk orang yang menderita. Namun, juga berlaku bagi mereka yang tidak terpengaruh olehnya. Bisakah masyarakat setempat yang tidak terkena dampak gempa menyisihkan hartanya untuk korban bencana?

Kalau dipikir-pikir, bukankah gempa bumi merupakan fenomena alam yang “normal”, di luar kendali manusia, yang bisa terjadi kapan saja, seperti matahari terbit di timur dan terbenam di barat setiap hari?

Yang bisa kita kendalikan adalah pengaruh gempa. Apabila kita bisa menjalin hubungan baik dengan pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana terkait, dampak dahsyat gempa pasti bisa dimitigasi.

Oleh karena itu, menjadi tugas kita semua, terutama pemerintah sebagai otoritas, untuk meningkatkan kesadaran tentang penanggulangan bencana. Untuk meminimalisir jatuhnya korban.

Jika tanggapan ini dikomunikasikan dan dikomunikasikan dengan benar oleh pemerintah dan badan penanggulangan bencana yang berwenang, akibat gempa bumi tidak akan terlalu serius.

Setidaknya ada tiga pelajaran tentang gempa bumi yang dapat kita petik dari uraian di atas:

Pertama, gempa bumi atau bencana lainnya merupakan tanda kecintaan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, karena bencana tersebut merupakan proses pembersihan yang membersihkan diri dari kekotoran, yang tidak terlihat; menjadi hamba yang lebih baik.

Kedua, ujian berupa bencana tidak hanya bagi mereka yang terkena dampak, tetapi juga bagi mereka yang tidak terkena dampak. Allah menguji kita semua untuk melihat apakah kita sebagai orang beriman dapat menyisihkan sebagian harta kita untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Ketiga, komunikasi yang baik antara otoritas (pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana) dan masyarakat harus ditingkatkan untuk meminimalkan dampak kerusakan gempa.

Sumber : mui.or.id