Keasikan Mahasiswa Idaqu Ikuti Workshop Kaligrafi Ebru

Workshop Kaligrafi Ebru

Markaz Kaligrafi perdana menyelenggarakan Workshop Seni Ebru untuk pertama kalinya pada hari Jumat (22/7) di Institut Daarul Qur’an Jakarta (Idaqu). Pemateri di workshop kali ini adalah Ustad Alim Gema Alamsyah, Lc. yang merupakan salah satu alumni Gontor dan Al-Azhar Kairo. Ia belajar seni ebru langsung dengan Ahli Ebru Turki Ustad Hayati Tosuner.

Workshop yang berlangsung selama tiga hari ini membahas secara detail tentang “Seni Ebru”. Seni ebru adalah seni melukis di atas air yang sudah dikenal sejak lama di dataran Cina, Persia dan Anatolia (Turki). Masyarakat turki menyebut seni marbling ini dengan sebutan seni ebru. Kata ebru sendiri oleh masyarakat Turki diturunkan dari kata Ebrí yang berarti awan, dan dari kata Abrú yang berarti permukaan air.

“Seni ebru ini sangat indah jarang yang mengetahui dan belajar pembuatan seni ebru yang sekarang terkenal juga dengan nama turkish paper atau marbled paper,” ucap Alim Gema pada saat membuka kegiatan workshop ebru. Beliau mengapresiasi terlaksananya workshop ebru pertama di Institut Daarul Quran. “Harapannya kegiatan ini terus berlanjut supaya Mahasiswa di Institut Daarul Quran bisa mengetahui teknik pembuatan ebru , harapan yang lebih besar seni ini bisa menyebar di Indonesia menjadi penopang berdampingan dengan seni kaligrafi,” tegasnya.

Untuk memulai pembuatan seni ebru kita perlu menyiapkan alat dan bahan diantaranya maroroh ijlun (minyak empedu sapi), cat alami, loyang, jarum, kuas dari bulu kuda, carrageenan (bubuk Turki) dan kertas karton. Beberapa perlengkapan tambahan seperti celemek, kaos tangan plastik, tisu, koran dan tempat sampah.

Langkah pertama pembuatan seni ebru adalah menyiapkan media air kemudian dicampur dengan bubuk carrageenan. Takaran pembuatan air untuk ebru yaitu 1 liter air memerlukan 10 gram bubuk Turki. Aduk air yang telah dicampur carrageenan sampai merata, diamkan kurang lebih 1 hari. Air yang baik digunakan untuk ebru adalah air panas agar bubuk carrageenan nya tidak menggumpal sehingga mudah larut. Air bertahan 2 hari jika di ruangan terbuka dan bertahan 4 hari di dalam Kulkas.

Langkah kedua tuangkan air kittrah ke dalam loyang, setelah cat dicampurkan dengan air dan maroroh. Fungsi maroroh agar cat yang diteteskan menyebar diatas air. Selanjutnya memercikkan cat diatas air kittrah. Pastikan sebelum memercikkan cat tidak ada gelembung dan kotoran yang menempel di air kittrah (campuran bubuk carrageenan dan air). Kita bisa membuat pola diatas  dengan cara gelgit (membuat pola keluar masuk membentuk vertikal dan horizontal). Cat alami yang warnanya sedikit pudar dan tidak pekat digunakan untuk membuat background. Cat yang lebih kental dan warna nya pekat digunakan untuk bentuk lale, bahasa turki untuk bunga tulip. 

Langkah ketiga, setelah pola sudah terbentuk di atas kittrah kita bisa meletakkan kertas karton dengan memegang ujung bagian atas dan ujung bagian bawah. Jika dirasa hasil lukisan di atas air sudah menempel di kertas, bersihkan terlebih dahulu pinggiran loyang. Kertas karton bisa langsung diangkat secara perlahan dengan gerakan seperti memeras di pinggir loyang. Kemudian hasil karya diletakkan pada alas kertas yang lebih keras. Untuk proses pengeringan jangan langsung terkena sinar matahari cukup di angin-anginkan di dalam ruangan kurang lebih 15 menit. Untuk proses pengeringan yang lebih baik , karya bisa disusun di rak atau lemari khusus.

Peserta berdecak kagum setelah melihat hasil karya ebru yang dibuat oleh Ustad Alim Gema bak sulap seketika lukisan diatas air berpindah langsung pada kertas karton. Setelah Ustad Alim mempraktekkan cara membuat ebru, setiap peserta mendapat kesempatan untuk mencoba membuat ebru. Peserta bersemangat membuat ebru sembari mendengarkan dan mengikuti arahan dari ustad Alim. Dalam pembuatan ebru banyak pelajaran yang didapatkan, berhati-hati ketika membuat ebru karena berpengaruh pada hasilnya, melatih kesabaran dan ketenangan serta kreativitas peserta untuk menghasilkan karya yang indah. Peserta memang ada yang sedikit masih ragu dan bingung saat membuat ebru tapi tak mengurangi semangat melainkan membuat gairah dan rasa ingin tahu yang semakin membludak.

Karya seni ebru banyak dipakai pada jilidan buku, Kaligrafi, bahkan kain. Memadukan seni kaligrafi dan seni ebru sudah sejak lama dilakukan oleh seniman Turki sejak lama. Perpaduan ini menghasilkan karya yang sangat indah. Seni Kaligrafi dan seni ebru dua seni yang berbeda ,masing-masing seni tersebut mempunyai kualitas dan keunggulan berbeda. “Jika dua seni ini yaitu ebru dan kaligrafi digabungkan akan menghasilkan karya yang sangat luar biasa indahnya” jelas Ustad Galby Manzila Zein Murid Ustad Alim Gema Alamsyah, Lc. 

Banyak orang yang belum mengetahui seni ebru, workshop ini sebagai bentuk pengenalan seni ebru . Harapannya dengan terlaksananya workshop ini bisa memperkenalkan dan mengembangkan seni ebru lebih luas. Peserta Workshop diikuti oleh Mahasiswa Institut Daarul Quran . Tujuan diadakannya workshop ini untuk menambah ilmu dan wawasan Mahasiswa. Memberikan ruang untuk meningkatkan minat dan bakat serta kreativitas Mahasiswa. Semoga ilmu yang didapatkan bermanfaat , bisa menjadi wasilah semakin banyak yang terinspirasi untuk  belajar seni ebru sehingga berkembang nya seni ebru di indonesia.

Salah satu peserta Workshop mangaku materi yang disampaikan sangat menarik, “adanya pelaksanaan workshop ini sangat menarik karena menambah ilmu dan pengalaman saya, pembelajaran nya juga seru kita tidak hanya belajar secara teori tetapi langsung mempraktekkan,” ujar Syahla.

Oleh : Adillah Zahra