Perang Mu’tah Oleh Ustadz Yusuf Mansur

nasihat ustadz yusuf mansur

Ada suatu kesempatan di acara puncak Milad Daarul Qur’an ke 19 dimana Ustadz Yusuf Mansur memberikan motivasi kepada para SDI (Sumber Daya Insan) Daarul Qur’an. Dalam motivasi tersebut UYM menceritakan tentang perang Mu’tah.

Apa itu perang mu’tah? Yaitu perang yang sangat luar biasa dimana kaum muslimin berperang menghadapi tentara romawi yang sangat besar pasukannya dan jumlahnya. Perang kali ini adalah perang dimana kepemimpinan pasukan muslim diuji oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pada awalnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam melantik 3 orang pemimpin perang atau panglima perang, yaitu Abdullah bin Rawahah Kata nabi kalau abdullah bin Rawahah Meninggal maka diganti oleh Zaid bin Haritsah, anak angkat nabi Muhammad, kalau Zaid bin Haritsah terbunuh maka akan diganti oleh Ja’far bin Abu Thalib yang merupakan adik dari Ali bin Abi Thalib.

Jadi itulah bagaimana Rasulullah menunjuk pemimpin, dikala itu pada saat pertempuran maka seolah-olah nabi Muhammad ketika menceritakan kepada sahabatnya di mimbar maka rasulullah diperlihatkan peperangan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka rasulullah mengatakan kepada sahabat, bahwasanya Abdullah bin Rawahah telah terbunuh maka yang jadi pemimpin perang adalah Zaid bin Haritsah, kemudian Zaid bin Haritsah pun meninggal, nabi sangat bersedih, kemudian digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib yaitu orang yang merupakan sepupunya nabi.

Lalu ja’far pun meninggal, orang-orang mulai bingung siapa yang akan menggantikannya disitu rasul tidak mengatakan siapa yang akan menggantikan ja’far sebagai pemimpin. Dalam kebingungan itu sahabat-sahabat pun melantik Khalid bin Walid yang merupakan seorang ahli perang, kemudian Allah menunjukkan Khalid merupakan pedangnya Allah (Saefullah) sehingga disaat kocar kacir dan disaat-saat kaum muslimin akan kalah, maka Khalid bin Walid lah yang memegang kepemimpinan, dengan hikmah Allah maka ia menyusun strategi yang luar biasa sehingga walaupun kalah ia bisa membuat ketakutan orang kafir dan bisa kembali ke Madinah dengan pasukan yang tersisa. 

Hikmahnya para SDI Daarul Qur’an hendaknya bisa menjadi seperti Khalid bin Walid, lihatlah kepemimpinan Khalid bin Walid, mungkin dikala banyak fitnah dan musibah hendaknya kita semua belajar dari perang mu’tah ini. Bagaimana seorang Khalid bin Walid bisa membuat pasukan Muslim yang terpecah belah bisa menjadi tenang, hingga bisa menyusun strategi. Dari hasil yang didapat umat muslim bisa dikatakan kalah namun bisa dianggap sebagai sebuah kemenangan dengan kembali dengan selamat ke Madinah. 

Itulah kisah perang mu’tah semoga kawan-kawan SDI bisa mengambil hikmah dari perang mu’tah ini. Dikala Daarul Qur’an sedang lemah dibutuhkan sosok-sosok seperti Khalid bin Walid yang bisa membuat semua tenang.

Oleh :Zikran Amnar, Lc. M.A.