Masjid Kampus sebagai Basis Pembentukan Karakter Mahasiswa

178 Views_

Secara harfiah (etimologis), kata masjid adalah bentuk kata isim makan (bermakna tempat sujud) dari akar kata sajada-yasjudu. Dalam ajaran Islam, masjid pada hakikatnya merupakan sentral kegiatan (central of activity) kaum muslimin dan muslimat, baik dalam dimensi ukhrawi maupun dimensi duniawi.  Sujud adalah simbol kepatuhan seorang hamba (makhluk) kepada Khaliq-Nya. Oleh karena itu, seluruh kegiatan yang mengambil tempat di masjid tentu memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi. Artinya, bahwa proses kegiatan itu hanya mengharapkan keridhoan Allah yang bersifat ilahiyah, berkaitan dengan pahala (al-tsawab) dan balasan (al-ajru) dari Allah SWT.

Dalam pengertian yang luas secara terminologis (maknawi), masjid memberikan indikasi sebagai kemampuan abidun (seorang hamba) dalam mengabdikan dirinya kepada Allah SWT secara totalitas dan penuh ketawadhu’an. Atas dasar tersebut dapat dipahami bahwa masjid tidak hanya terbatas pada pandangan materialistik sebatas indah ornamennya, interiornya tinggi, bagus posisinya, sedap dipandang, rapih dan bersih sekitarnya atau harum laintainya, melainkan ada sisi idealistik- immaterialistik yang termuat di dalamnya.

Di dalam tradisi dunia ponpes dan juga perguruan tinggi, masjid dapat dijadikan ajang sentral kegiatan pendidikan Islam baik dalam pengertian modern maupun tradisional. Dalam konteks yang lebih jauh, masjidlah yang menjadi ‘aula pesantren pertama’, yaitu tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar pertama.  

Dengan semangat inilah, dalam pembangunan Institut Daarul Qur’an, gedung pertama yang dibangun adalah masjid yang kemudian diberi nama dengan Masjid Al-Anwar. Menurut  Rektor IDAQU, Dr. H. M. Anwar Sani, “Penamaan Al-Anwar untuk masjid kampus merupakan hadiah pemberian dari Kiai Yusuf Mansur sendiri.” ungkapnya dalam salam satu wawancara kepada kami. “Karena sudah ada beberapa nama lain, maka nama Al-Anwar ini yang dipilih.” tuturnya.

Pembangunan masjid ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah bagi seluruh civitas akademika Institut Daarul Qur’an. Masjid ini dibangun untuk mencukupi tempat beribadah yang lebih nyaman. Peresmian masjid IDAQU ini secara simbolis dilakukan oleh Duta Besar Arab Saudi untuk Republik Indonesia sekaligus peresmian kampus IDAQU oleh Menteri Agama RI tahun 2020.

Lokasinya sangat strategis. Tetap Mudah diakses siapa saja dan dari mana saja. Tidak melewati gedung perkuliahan. Terdapat area parkir di pinggir masjid. Masjid ini memiliki bentuk yang khas.

Tak hanya bikin adem, masjid kampus bikin betah mahasiswa karena fasilitasnya keren, instagrammble, ada kolam ikannya, belakangnya juga ada kantin, dan futuristik. Jika datang ketika siang atau sore hari, akan terlihat suasana para mahasiswa sedang belajar bersama di area selasar bangunan. Sangat terasa suasana masjid kampusnya.

Masjid IDAQU, Lebih dari Sekedar Pusat Kegiatan Keagamaan

Di beberapa perguruan tinggi ternama, masjid menjadi pilihan alternatif bagi mahasiswa/mahasiswi untuk mengisi waktu di luar kegiatan perkuliahan formal. Kenyataan ini terus berkembang, sehingga masjid kampus bukan saja untuk kepentingan kegiatan keagamaan, tapi juga untuk jenis-jenis kegiatan latihan kepemimpinan, diskusi dan lain sebagainya.

Di masjid ini pun tidak tidak hanya dijadikan tempat sholat saja, namun juga tempat beristirahat, berdiskusi, bahkan melakukan kegiatan rapat organisasi. Adem dan nyaman.

Masjid kampus saat ini sudah menjelma sebagai miniatur pembinaan ummat dan pelantikan serta pengukuhan organisasi Mahasiswa/Mahasiswi  yaitu OMIK (Organisasi Mahasiswa Intra Kampus IDAQU) kemarin pada tanggal 11 Juni 2021. Dari sinilah masjid berfungsi tempat pembinaan calon pemimpin masa depan Indonesia, yaitu para generasi emas Indonesia.

Masjid ini terletak di tengah-tengah kampus Institut Daarul Qur’an di mana digunakan tidak hanya untuk melaksanakan shalat berjamaah segenap Pimpinan Kampus IDAQU, para Dosen, seluruh karyawan SDI, atau mahasiswa-mahasiswi lainnya, melainkan juga ada masyarakat yang ikut shalat berjemaah di masjid tersebut.

Di dalam masjid yang indah ini, mahasiswa-mahasiswi Institut Daarul Qur’an dibina mental dan dipersiapkan agar mampu mandiri di bidang ilmu keagamaan. Oleh karena itu, masjid di samping dijadikan sebagai wadah pusat pelaksanaan ibadah juga sebagai tempat latihan rohani/terapi hati (riyadhoh ruhaniyyah). Masjid kampus Idaqu berfungsi selain sebagai tempat ibadah, juga bisa untuk muhadhoroh (pelatihan ceramah), khotib jum’at, qiroah, tahfidzul quran, berdiskusi, musyawarah, menghafal dan membaca kitab-kitab/buku-buku.

Pembangunan masjid di lingkungan kampus sejatinya memang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga bisa menjadi basis pusat pengembangan pendidikan karakter. Tempat ibadah harus memberikan pendidikan karakter agar anak-anak / segenap mahasiswa memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, mencintai lingkungan dan cinta tanah air dengan mengamalkan agama yang dianut, salah satunya tentu dengan menjaga kebersihan dan keindahan masjid kampus Idaqu.

(writer: Nasrullah Nurdin)