JADI KASIRNYA ALLAH?

Ditulis oleh M. Anwar Sani, S. Sos. i., M.E, selaku Rektor Institut Daarul Qur’an.

“Allah tidak memberikan rizki dengan cara begini…” ujar Ustadz Adiwarman Azwar Karim pada suatu pengajian, sambil jatuhin selembar uang kertas lima puluh ribu rupiah. Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) ini pun lantas buka rahasia bagaimana hidup mulia dengan kelimpahan harta: “Kalau ente pengen dikejar-kejar rizki, gampang. Daftarkan diri ente jadi kasirnya Allah.” Wow…

Oke…Pertanyaannya kemudian adalah, siapakah yang dimaksud dengan kasirnya Allah? “Ialah orang-orang yang atas perkenanNya membelanjakan rizki yang diperoleh di jalan Allah, bersifat dermawan, dan selalu memberikan yang terbaik dalam bersedekah,” Ustadz Adiwarman menegaskan. Orang yang memperlakukan rizki dengan cara itu, taken for granted akan mendapat amanah lebih dalam mengelola rizki dan pendayagunaannya dari Allah Ta’ala.

Janji Allah untuk membalas setiap yang Anda sedekahkan dengan balasan yang berlipat-lipat, kita sudah paham benar. Maka, selagi Allah menggelar kesempatan emas, marilah belajar menjadi juru bayar Allah alias jadi kasirnya Allah untuk saudara-saudara kita yang karena berbagai keterbatasan, tidak mampu mengakses rizki sebesar yang kita nikmati. Setidaknya, kita terus berlatih untuk mengkalkulasi lagi berapa sih sebenarnya yang pantas kita nikmati di tengah kepungan orang miskin di sekitar kita?

Zakat, Infak dan sedekah yang kita tunaikan insya Allah bukan sekedar kita memberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, akan tetapi peran kita sebagai kasirnya Allah justru akan diganti dengan berlipat ganda oleh Allah. Jadi…ya nggak ada yang sia-sia sama sekali. Justru kita yang untung…Pilihan buat kita… mau apa nggak..hehe.. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum dating kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?“(Al-Munafiqun 10).