Ditulis oleh Fitri Husaibatul Khairat Hsb, S.Pd.I, M.Pd selaku Dosen BKPI Institut Daarul Qur’an.

Toxic Positivity mendadak ramai diperbincangan. Tagar “toxic positivity” yang sempat menjadi trending di linimasa pada beberapa waktu ke belakang. Hal ini menyoroti perilaku masyarakat yang kerap memaksakan seseorang untuk berpikir positif tanpa memberikan empati pada masalah yang tengah dihadapinya. Jawaban bahwa semua akan baik-baik saja, terkadang dapat menjadi solusi “kosong” yang diberikan kebanyakan orang saat ini. Banyak orang beranggapan bahwa berpikir positif membuat seseorang senantiasa merasa senang dan bersikap ceria.  Anggapan ini bisa saja benar, meski tak sepenuhnya. Pada waktu-waktu tertentu, berpikir positif bisa berubah menjadi “racun”.

“Semangat ya!! Semua akan baik-baik saja”

“Stop Berpikir Negatif”

“Kamu pasti Bisa”

“Jangan Menyerah”

“ Jangan Sedih Mulu, Ga Baik”

“Kok stress sih?? Semangat donk”

Apakah kamu pernah disemangati dengan kalimat ini? Atau mungkin kamu pernah menyemangati orang menggunakan kalimat tersebut?

Menurut seorang psikoterapis dari Amerika, Jennifer Howard Ph.D, nasihat yang bertujuan untuk mengajak seseorang berpikir positif justru akan membuat seseorang merasa takut, sedih, sakit dan merasa sendiri. Usaha untuk mengajak seseorang berpikir positif sehingga tidak realistis justru akan menjadi racun dan palsu. Hal inilah yang dimaksud dengan toxic positivity. Ketika mendengarkan teman bercerita mengenai kesedihan dan musibah yang dialaminya, sebisanya hindarilah memberi respon berupa kalimat-kalimat pemberi semangat atau meminta mereka berpikir positif. Karena, justru akan membuatnya semakin merasa rendah diri dan bisa menimbulkan gangguan psikis. Saat kamu meminta temanmu  untuk melupakan hal-hal yang pahit, maka secara tidak sadar, kita memaksa untuk memendam berbagai emosi negatif di bawah alam sadarnya. Tentu ini akan berdampak ke psikis jika terus dibiarkan.

Bagaimana seharusnya bersikap, agar tidak menyebarkan toxic positivity?

Pertama, biarkan temanmu bercerita! Usahakan untuk tidak memberikan saran terlebih dahulu. Karena sebenarnya seseorang yang sedih membutuhkan ruang untuk bercerita. Perlu dipahami bahwa saat seseorang memutuskan untuk membagi kisahnya padamu, berarti kamu adalah orang yang dipercaya. Selain harus pintar menjaga rahasianya, kamu pun juga harus pintar dalam memberi respon saat teman kamu bercerita.

Kedua, kamu bisa mengganti toxic positivity tersebut dengan misalnya “wajar kok kalau kamu kecewa”, “pasti kamu lagi ngerasa berat banget ngejalaninnya ya”, “kadang ngerasa patah semangat itu wajar kok” dibandingkan kamu memberi kata-kata penyemangat yang justru malah bisa membuat seseorang menjadi patah semangat.

Kemudian, berikan energi atau semangat positif di tahap akhir, saat teman kamu sudah tuntas dengan apa yang ingin diceritakannya. Ini jauh akan lebih bekerja, karena temanmu sudah berada dalam kondisi yang lebih bisa menerima dan secara sadar diri harus melepaskan kesedihannya.

Dengan menempatkan diri di posisi mereka dan menerima perasaannya, secara tidak langsung membuat mereka terlatih untuk jujur dengan perasaan mereka sendiri dan mereka mulai berpikir untuk mencari jalan terbaik bagi mereka sendiri, bukan sekedar “hanya membuatnya bertahan dari sesuatu yang terlihat seolah positif. Karena kenyataannya, hal negatif juga harus diketahui dan diterima apabila memang terjadi.

Kata penyemangat dan positif sewaktu waktu bisa membuat mental semakin depresi

Ketika seseorang terus menerus mendorong orang yang dalam masalah untuk melihat sisi baik dari kehidupan, tanpa pertimbangan pengalaman yang dirasakan kita atau tanpa memberi kesempatan kita untuk meluapkan perasaannya.

Susan David, seorang instruktur psikologi di Universitas Harvard menjelaskan bahwa: “Merasakan, menerima dan tidak menyangkal emosi negatif itu sebenernya adalah hal yang natural.” Emosi yang ditekan bisa jadi penyebab gangguan psikis, yang bisa menjadi sumber utama munculnya rasa cemas dan depresi.

Serupa dengan pengungkapan Susan, dr. Jiemi Ardian, seorang residen psikiatri di RS Muwardi Solo menjelaskan setiap orang berhak menunjukkan emosi negatif seperti sedih, jijik, bahagia atau takut dan emosi ini punya pesan. Kalau emosi-emosi itu disangkal atau dipendam demi terus terlihat positif atau bahagia di depan orang-orang, yang ada emosi negatifnya menumpuk. Kemudian bisa memicu stres dan sakit psikis serta fisik alias psikosomatis. Emosi yang ditekan terus bisa jadi penyebab gangguan psikis. Yang paling sering terjadi gangguan kecemasan dan depresi.

Mereka butuh Empati bukan kalimat Positivity

Tidak semua orang membutuhkan semangat saat mereka bercerita soal perasaan negatif atau pengalaman buruk yang dialaminya. Padahal yang sedang dibutuhkan orang tersebut adalah empati. Kesempatan untuk didengar dan dipahami. Ketika seseorang berhadapan dengan teman yang ditimpa masalah bukan merespons dengan nasihat, apalagi dorongan positif yang seolah menjadi formalitas. Mendengarkan orang yang mau berkeluh kesah tanpa sikap menghakimi, atau memberinya kesempatan untuk mengekspresikan setiap emosi sampai mereda lebih baik untuk dilakukan.

Menanyakan hal apa yang membuatnya ingin menyerah atau apa yang membuatnya begitu sedih atau tertekan. Coba mendengarkan cerita terlebih dahulu sebelum buru-buru menasihati. Setelah teman sudah mencurahkan emosinya, barulah kamu bisa memberikan pendapat sebab akibat jika temanmu mau melakukan sesuatu atas luapan emosinya.

Toxic positivity harus dihindari. Kamu tidak perlu terus-terusan memandang segala sesuatu dari emosi positif, tanpa mempertimbangkan emosi negatif. Dengan mempertimbangkan emosi negatif, Anda bisa memahami suatu kondisi dengan lebih baik.

Komentar
Bagikan: