Ditulis oleh Feny Nida Fitriyani, M.Pd selaku dosen PGMI Institut Daarul Qur’an.

Hidup di Indonesia, artinya setiap individu wajib mengakui bahwa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang kaya akan budaya, agama, bahasa, suku serta berbagai macam aspek kemajemukan lainnya. Pandangan kemajemukan ini seperti yang diungkapkan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono yaitu.

“Kemajemukan bangsa Indonesia tidak menempatkan kelompok tertentu berada di atas kelompok lainnya”

Kompas, 17 Agustus 2020

Dari sini dapat kita telaah bahwa kemjemukan adalah inti dari bangsa Indonesia yang harus saling dipahami serta dihormati.

Memahami kemajemukan bangsa oleh setiap warga negara Indonesia tentu memiliki tujuan besar yaitu sebagai fondasi pemersatu bangsa. Tanpa pemahaman ini, bangsa ini akan terpecah belah, tidak ada toleransi dan penghormatan. Namun, yang harus kita pahami bersama bahwa Indonesia tidak akan berdiri tanpa bangsa yang majemuk, sehingga tercetuslah “Bhineka Tungga Ika” sebagai simbol bangsa “meskipun berbeda tapi tetap satu juga”. Disinilah tantangan bangsa ini diuji yaitu tentang bagaimana kita tetap erat bergandeng tangan dalam ikatan tali toleransi di era global.

Membahas Isu Intoleransi

Isu intoleransi yang kerap mencuat di hadapan publik bukan merupakan suatu hal baru yang terjadi sekali atau dua kali saja di Indonesia, melainkan sudah banyak kejadian seperti itu. Perkelahian antar suku tidak terhindarkan karena adanya segolongan kelompok yang berakar dari stereotipisasi serta ideologi fanatik (sangat kesukuan dan mementingkan sukunya). Perkelahian serta bentrokan ini muncul karena hal kecil yang menjadi besar karena kesalahpahaman. Beberapa konflik yang terjadi misalnya konflik di Situbondo pada tahun 1995 dan 1996. Konflik rasial etnis cina di Ibukota Jakarta pada tahun  1998, konflik Sambas di Kalimantan, dan berbagai kerusuhan lainnya karena perbedaan-perbedaan.

Berbagai konflik yang telah terjadi ini mengindikasikan adanya Intoleransi yang terjadi karena kurangnya pemahaman tentang etnis-etnis lain. Sehingga, pemahaman-pemahaman sikap toleransi seperti ini harus diinternalisasikan sedini mungkin. Setiap pihak baik pemerintah, masyarakat, keluarga, dan institusi sekolah wajib memberikan pemahaman ini. Memasukan nilai-nilai kebangsaan, seperti nilai kemanusiaan sangat penting diberikan dalam keseharian seseorang, sehingga lama kelamaan nilai-nilai tersebut akan menjadi budaya bangsa yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Begitu juga tentang nilai toleransi yang harus ditumbuhkan sejak dini. Nilai-nilai toleransi yang diajarkan sejak dini akan melekat dan menjadi fondasi bagi para generasi penerus bangsa. Mengapa pendidikan toleransi harus diberikan sejak dini? Karena menurut para pakar pendidikan anak, masa terbaik dalam kehidupan manusia adalah ada pada masa anak. Masa anak usia dini khususnya merupakan masa emas (golden age) dimana otak anak seperti spons yang akan menyerap berbagai hal yang mereka terima (Montessori).

Oleh karena itu, saat ini pemerintah memprioritaskan agar anak-anak usia dini memiliki pendidikan yang layak. Pendidikan ini nantinya akan menjadi pijakan serta bekal awal anak dalam kehidupannya. Disini setiap pihak mesti saling mendukung dalam rangka mensukseskan pendidikan awal anak.

Begitu juga dalam pendidikan toleransi, pemerintah, masyarakat, sekolah, dan orang tua saling mendukung membangun terciptanya lingkungan yang kondusif dalam pendidikan toleransi untuk anak.   

Mendidik Toleransi Anak Merdeka

Kemerdekaan adalah hak setiap bangsa juga setiap komponen dalam bangsa tersebut. Anak-anak juga termasuk di dalamnya, sehingga anak-anak berhak merdeka. Anak-anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga proses tumbuh kembangnya bisa maksimal. Tumbuh kembang yang maksimal akan memunculkan generasi penerus yang siap untuk membangun bangsa.

Anak-anak merdeka adalah anak-anak yang memiliki pemikiran untuk terus maju dan mampu menepis rasa takutnya. Anak-anak yang mau menyayangi serta menghormati setiap orang di sekitarnya. Mereka juga memiliki jiwa toleransi yang tinggi, mampu berkomunikasi dengan baik, terbuka wawasannya, serta mampu menjalin kerjasama.

Disinilah kesadaran perlu kita bangun. anak-anak merupakan aset bangsa dan masa depan bangsa. menyiapkan mereka sebaik mungkin, tidak hanya dalam wawasan, agama, namun juga sikap dan mental berani menghadapi setiap tantangan. bergotong royong dengan memberikan pendidikan terbaik, karena setiap aspek dapat mempengaruhi kehidupan mereka kelak.

Memberikan pendidikan terbaik adalah kewajiban dari setiap kita, sebagai masyarakat sebuah bangsa. Memerdekakan anak-anak mungkin terlihat sepele, namun sangat berdampak besar. Memberikan contoh terbaik adalah melalui perilaku dan sikap kita sehari-hari yang akan anak-anak tiru, maka berikanlah sikap dan perilaku terbaik kita untuk mendidik anak-anak merdeka. Indonesia harus terus bersatu dan bergandeng tangan, maka anak-anak yang akan menjadi generasi penerus memerlukan bekal nilai toleransi, sehingga mari bersama membangun kesadaran untuk mendidik anak-anak merdeka yang penuh dengan toleransi.

Komentar
Bagikan: