Bapak Nana Pendidikan ditengah Covid-19; Antara Harapan dan Optimisme

Proses kehidupan sejatinya memberikan arti perjuangan dan makna yang sangat abstrak, terkadang se-irama tapi tak senada. Inilah sesunguhnya yang dapat diterima oleh manusia dengan lapang dada, sehingga terciptanya proses pendewasaan manusia dari pelbagai perspektif (dewasa dalam bersikap, berpikir, dan bertindak, dsb). Disuguhkannya pelbagai problematika di dunia merupakan kehendak Tuhan, tentunya bagian dari keterampilan manusia untuk menjawab dan menghadapinya. Sebagai tindak lanjut, seyogyanya kita dapat berperan serta melalui pendidikan dan pengajaran. Hal inilah yang memang diamanatkan dalam ajaran Agama. Benarlah, pendidikan dan pengajaran itu akan memutus mata rantai pelbagai problematika di dunia.

Kini, Usia Bangsa Indonesia sudah menginjak Ke-74 Tahun. Diawal tahun 2020 seluruh Dunia termasuk Indonesia, sedang berduka (se-bagian daerah di Indonesia), akibat dihadapkan dengan persoalan Wabah Corona Virus Disease-Covid-19 yang sudah berstatus pandemi. Berdasarkan data yang diperoleh dari adanya wabah tersebut adalah 11.192 orang dinyatakan Positif, 845 orang meninggal, dan 1.876 orang sembuh. (Achmad Yurianto dalam keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Minggu (3/5). Selanjutnya, data pada hari minggu (03 mei 2020) ditemukan 349 kasus baru yang terkonfirmasi positif corona, yang kian meningkat  dari satu hari sebelumnya (Sabtu, 02 Mei 2020) berjumlah 292 kasus baru. Data yang berjumlah Belasan ribu kasus positif corona tersebut diatas tersebar di 326 kabupaten/kota di 34 provinsi, dengan DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur sebagai episentrum utamanya.

Merujuk data di atas, mengisyaratkan bahwa peran dan kontribusi dari berbagai pihak untuk menjalin kerjasama sangat dibutuhkan, mulai dari pemerintah pusat sampai daerah termasuk seluruh elemen masyarakat harus berperan all out dalam menangani problematika ini. Mengingat adanya peningkatan yang signifikan dari adanya wabah tersebut. Sebelumnya, berbagai upaya telah dilakukan kepala daerah seperti Gubernur DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur serta sejumlah gubernur lainnya. Telah mengeluarkan seruan, salah satunya Gubernur DKI Jakarta dengan Surat Seruan Nomor 6 tahun 2020 tentang Penghentian Sementara Kegiatan Perkantoran dalam rangka Mencegah Penyebaran Wabah Corona Virus Disease-Covid-19. Selain itu, Keputusan Gubernur DKI Jakarta ini sebagai legalitas penetapan Status Tanggap Darurat Bencana terhitung mulai sejak Jum`at, 20 Maret 2020. Oleh karena itu, dengan dikeluarkan seruan tersebut maka, seluruh kegiatan Publik diwilayahnya dalam sementara waktu ditiadakan (dialihkan) dan sampai saat ini dari status di atas meningkat menjadi status Pembatasan Sosial Berskala Besar(PSBB).

Seirama dengan adanya perkembangan wabah tersebut, setidaknya Majelis Ulama Indonesia-MUI terenyuh mengeluarkan fatwa, mengingat kebutuhan hajat banyak orang disebabkan wabah Corona yang sudah berstatus pandemi dunia. Fatwa tersebut dikeluarkan dengan Nomor 14 Tahun 2020 tentang panduan umat muslim mencegah penyebaran Wabah Corona Virus Disease-Covid-19 memuat 9 point, termasuk soal Ibadah wajib seperti Ibadah Shalat Jum’at.

Dengan adanya Ujian dan Cobaan yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya, dalam perspektif pendidikan maka, perlu dilihat dari kacamata dan cakrawala luas, mengingat ini sebagai anugerah yang sejatinya, ada hikmah dibalik kejadian yang menimpa Bangsa Indonesia bahkan dunia sekarang ini. Anugerah bagi kita semua selaku hamba-Nya, teruntuk bagi dunia pendidikan, yang kini semakin terus berkarya mencerdaskan generasi bangsa dan berkontibusi untuk pembangunan peradaban bangsa. Sebagaimana Allah Swt. berfirman Qs. an-Nahl [16]:125.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sebab-akibat wabah Covid-19, setidaknya mengajarkan kepada kita bahwa serulah manusia itu, untuk tetap berada pada jalan yang lurus, walau itu sulit, karena tatkala ujian dan cobaan menghampirinya, tetaplah berdzikir, bermunajat dan berikhtiar. Sesungguhnya segala bentuk apapun yang ada ini, merupakan ciptaan Tuhan Allah Swt. dan tentu ada hikmah bagi orang yang beriman, dan bertakwa.

Jika kita memandang bahwa apa yang dihadiahkan di dunia ini sebagai bentuk rasa syukur, maka kita akan melihat dunia ini terasa indah, sebab pengajaran dan pendidikan akan memberikan bekal pengetahuan yang luas. Seruan diatas juga, dapat dijadikan pertimbangan bahwa untuk melakukan action proses pendidikan dan pengajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara;metode. Berbagai Instruksi sudah dikeluarkan baik oleh presiden, hingga kepala daerah dengan seruan mengurangi aktivitas di luar rumah; Saatnya kita kerja dari rumah (Work From Home) , belajar dari rumah (Study From Home), dan Ibadah di rumah.

Pernyataan ini, didukung dengan dikeluarkannya fatwa MUI diatas tersebut, sebagai ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi hal yang dapat menyebabkan terpaparnya penyakit, karena hal ini menjadi bagian dari menjaga tujuan pokok beragama. Secara internal Islam mengatur tidak hanya hubungan manusia dengan Tuhan (habl min Allah) melalui system Ibadah ritual, melainkan mengatur hubungan manusia dengan manusia (habl min al-nas) dan mencakup pelbagai aspek kehidupan manusia: social, ekonomi, politik, ketatanegaraan, hukum, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, dan sebagainya. Hal ini dilakukan Islam dengan memberikan dasar-dasar dan prinsip-prinsip tentang pelbagai kehidupan tersebut. Adapun perincian system dan konsep pengaturan, serta metodenya bersifat compatibleadaptive dan accommodative, sesuai perkembangan zaman dan budaya dimana Islam itu hadir.

اَلْاِسْلَامُ صَالِحٌ لِكُلِّ زَمَان وَ مَكَان

Kalimat diatas, memberikan bukti nyata, bahwa Islam relevan untuk  setiap waktu (masa;zaman) dan tempat. Termasuk proses pendidikan dan pengajaran yang membuktikan bahwa peran pendidikan sekarang ini sangat luwes-mudah, reformulasi pendidikan kini hadir antara harapan dan optimisme. sekalipun dihadapkan dengan adanya Wabah Corona Virus Disease-Covid-19, dijabarkan kedalam poin yang sederhana sebagai berikut;

Pertama, Keimanan. Islam kian terlihat dapat berperan sebagai penyelamat kehidupan manusia dari masalah dan krisis kemanusiaan multidimensional melalui sistem keagamaan (religiuous system) yang dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari secara komprehensif (kaffah atau udkhulu fi al-silm al-kaffah). Pemahaman komprehensif itu selanjutnya melahirkan sikap moral dan akhlak mulia. Perumpamaan ini dapat digambarkan melalaui Wahyu memandu Ilmu, wahyu disini adalah petunjuk dari Allah Swt. yang diturunkan kepada nabi dan rasul yang kemudian diberikan al-Qur’an, hadis, nash, mushaf dan seterusnya.  Selanjutnya, Memandu (asal kata dari pandu yang berarti penunjuk jalan, kaidah, patokan, memimpin, memayungi, mengarahkan dan seterusnya) kemudian Ilmu sebagai pengetahuan yang memilliki sistem dan metode tertentu baik tentang soal duniawi, akhirat, lahir dan batin. Oleh karena itu, dalam memaknai wahyu memandu ilmu haruslah lincah, lentur dan fleksibel sehingga ada ruang perluasan dan pendalaman makna. Diketahui, sesungguhnya banyak orang Islam tidak menjalankan rukun Islam. Mereka yang menjalankan-pun, sekedar ritual saja minus Iman. Lalu, yang menyakini rukun Iman pun, tidak dibuktikan dalam amal. Padahal, syariat berfungsi sebagai pembersih jiwa dan peningkat keimanan.

Mengamalkan rukun Islam yang lima perlu ditambah dengan keyakinan pada rukun Iman yang enam. Itu pun masih harus dibuktikan dengan amal. Iman tanpa amal tidak sempurna dan amal tanpa iman bernilai kosong. Iman dan amal shaleh itu bertingkat-tingkat kualitasnya. Tingkat amal tertinggi adalah berbuat baik (ihsan) disegala tempat dan waktu. Kemudian, di atas beriman dan berbuat baik masih ada tingkat yang lebih tinggi yaitu beriman dan berilmu atau berpikir secara benar.

Kedua, Ketakwaan. Dengan adanya kejadian ini, di atas sudah disingguh bahwa jadikanlah sebuah anugerah sebagai bentuk rasa syukur. Karena bagaimana pun hal ini atas kehendak Allah Swt. Jangan sampai dengan adanya peristiwa ini, menjadikan keyakinan, kekokohan pondasi dasar ketakwaan seseorang tergoyahkan. Naudzubillāh minjālik. Sesungguhnya bertakwa itu adalah hasil dari proses akhir beriman atau konsekuensi logis dari Iman atau proses agar tetap konsisten dalam beriman. Sedangkan keimanan itu datang setelah atau bersamaan dengan proses berislam. Jadi, Islam, Iman, Takwa adalah satu kesatuan yang kuat. Ketiganya hendaklah terus dipupuk dari akarnya yaitu dengan menjalankan syari`ah. Dengan menjalankan rukun Islam seperti shalat, puasa, zakat dan haji secara istiqamah atau terus menerus akan mengakibatkan kesucian diri yang juga merupakan tujuan dari ketakwaan. Olehnya dengan diterbitkan Seruan keputusan Majelis Ulama Indonesia-MUI di atas setidaknya dapat menjadikan dasar pengetahuan bagi umat Islam di seluruh dunia khususnya Indonesia, karena hal tersebut pernah terjadi juga pada Zaman Rasulullah Saw. Ketika itu, rasul mengabarkan kepada ummatnya untuk tidak mendekati wilayah yang terkena wabah. Begitu juga sebaliknya, dihimbau bagi yang berada diwilayah tersebut kemudian terkena wabah maka baginya dilarang untuk keluar. Wabah dimaksud kala itu, kusta atau lepra yang menular dan mematikan.

Persoalan terjadinya polemik dari adanya keputusan MUI di kalangan masyarakat, merupakan sebagai sebuah konsekuensi dari keputusan yang telah disahkan, dengan merujuk kepada berbagai sumber yang otoritatif untuk dapat dijadikan hujjah yang konkrit dari pandangan ulama klasik dan kontemporer. Semoga dengan adanya peristiwa ini dapat menjadikan masyarakat semakin cerdas, cermat, dan cakap dalam menyikapi persoalan yang ada termasuk pelarangan Ibadah Shalat wajib di Masjid disebagian wilayah Indonesia. mengingat pada dasarnya syariat Islam bagian dari adh-Dharuriyat al-Khamsu; lima perkara mendesak pada kehidupan manusia. seperti memelihara agama, jiwa, keturunan, akal dan harta.

Ada salah satu Hadits dari sahabat Utsman bin ‘Affan, yang melihat kondisi seperti ini seperti kondisi kala itu, beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قَالَ : بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثُ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُمْسِيَ

“Barang siapa yang membaca: Bismillāh, alladzi lā ya dhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi walāfissamā wahuwassamiul ‘alim (Dengan menyebut nama Allah, tidak akan membahayakan dengan menyebut namaNya segala sesuatu di langit dan di bumi. Dan dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) dibaca doa ini tiga kali, dia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba sampai dipagi hari. Dan apabila dia baca di pagi hari tiga kali, maka juga tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba sampai di sore hari. (HR. Abu Dawud dan selainnya)

Ketiga, Kedisiplinan. Kedisiplinan merupakan modal utama bagi Umat Islam. Kenapa tidak, kedisiplinan telah mengajarkan manusia akan pentingnya menghargai diri sendiri dan orang lain, waktu dan usia. Ke-wajib-an dan Ke-sunnah-an. Jika diurai dalam terminologi Pendidikan maka, shalat, zakat, dan puasa, serta belajar dan sebagainya merupakan kedisiplinan yang harus dilaksanakan dan ditaati bagi umat Islam, buah kedisiplinan mengajarkan arti tanggung jawab, tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain dan sebagainya.

Disinilah ditemukan bahwa kedisiplinan dalam Islam itu Indah, karena segala yang dilakukan pada waktunya akan memberikan keberkahan hidup. Dengan demikian, Islam itu ramah bukan marah. Bahkan ketika orang focus pada sisi positif, justeru pertumbuhan akan terus melejit, menjulang, dan makin luas manfaat yang dirasakan. Membiasakan diri untuk berlaku disiplin, akan terasa nikmat, tatkala seorang berpasrah kepada Tuhan dengan mengucapkan Bismillah Alhamdulillah; semata-mata ia disiplin berlatih bersyukur agar hidup lebih berkah dan makmur. Mari kita jadikan kedisiplinan ini dengan menjaga jarak fisik (physical distancing) dengan komunikasi yang baik terarah dan terukur sehingga, wabah Corona Virus Disease-Covid-19 dapat diminimalisir serta terputus mata rantainya.

Keempat, Pendidikan di Era Industri 4.0 (Disrupsi). Sebelum dan sudah tersebarnya wabah Corona Virus Disease-Covid-19. Dunia pendidikan memang sudah di hadapkan dengan Era disrupsi. Proses pembelajaran sebelumnya, masih banyak menggunakan white board penggunaan laptop berbasis offline dengan klasikal learning kini berpindah pada ruang virtual dengan banyak suguhan yang disajikan oleh penyedia jasa aplikasi pembelajaran. Dimulai dari WA Group, Google Classroom, Youtube, Zoom.us, Edmodo, Schoology, dan E-Learning. Hal ini membuat percepatan perubahan proses pembelajaran berdasarkan Instruksi dari presiden beserta para menterinya. Yang mengharuskan seluruh komponen masyarakat Indonesia di Sebagian wilayah Indonesia untuk bekerja dan belajar dari rumah (Work and Study From Home).

Terdapat sejumlah faktor yang mendorong manusia pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai berikut; Pertama, faktor ajaran Islam (Qs. al-`Alaq [97]:1-5). Kedua, faktor lingkungan dan budaya. Ketiga, semangat berlomba-lomba untuk mencapai kemajuan (bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban). Keempat, adanya tradisi ilmiah yang sangat kuat (mencintai ilmu, membaca dan menulis, meneliti, membangun lembaga pendidikan, mengoleksi buku, manuskrip dan membangun perpustakaan, menerjemahkan manuskrip, mewakafkan tanah dan segala sesuatu untuk pendidikan. Kelima, ajaran Islam wewajibkan pada seluruh penganutnya agar melakukan pelbagai kegiatan dalam bidang apa saja dengan berbasis pada ilmu pengetahuan yang dihasilkan melalui bacaan, riset, dan sebagainya. Keenam, adanya pandangan yang bersifat integrated, komprehensif, dan holistic dalam memandang ilmu pengetahuan dan agama.

Berangkat dari faktor di atas, Ilmu pengetahuan dan teknologi menurut Islam harus ditujukan untuk membawa manusia semakin bertakwa kepada Allah Swt. karena melalui berbagai teori ilmu pengetahuan yang ia peroleh dari hasil pengamatan, penelitian, dan percobaan terhadap pelbagai tanda kekuasaan Tuhan yang terdapat di alam jagat raya, pada hakikatnya adalah ciptaan Tuhan dan hukum Tuhan.

Adanya dorongan atas intruksi tersebut, sejatinya pemerintah harus segera memetakan dan mempola tata proses pembelajaran dengan aturan dan fasilitas yang baik, mengingat pembelajaran berbasis daring (dalam jaringan) ini bertumpu pada kekuatan signal dan akses internet yang stabil. Banyak kendala tatkala melakukan daring menggunakan fasilitas aplikasi yang ada, semisal terputusnya konektifitas jaringan komunikasi, lambannya suara yang diterima, menyebabkan daring ini menjadi tidak kondusif. Oleh karenanya segera lakukan kerjasama untuk peningkatan kualitas pembelajaran berbasis daring yang semakin baik dan maju.

Semoga dengan merebaknya wabah Covid-19 ini dapat memberikan hikmah (harapan) menjadikan kita lebih mendekatkan diri dengan keluarga, saudara, terlebih dan utama pada sang pencipta Allah Swt. Bersyukur atas nikmat-Nya berikhtiar atas Usaha, berdo’a kepada-Nya. dan sabar serta tawakkal kepada-Nya. Wallāhu a`lam biśhawāb.

Ditulis oleh Nana Meily Nurdiansyah, M.Pd, Dosen Institut Daarul Qur`an dan Mahasiswa Doktor PKU-MUI Baznas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Komentar
Bagikan: